Saturday, March 31, 2018

Cicak di dinding dan jaminan rizqi Allah

CahayaDakwahNU.com-Bekasi
Seandainya kita adalah seekor cicak, mungkin sudah sejak lama kita berteriak, " Ya Alloh, kau salah rancang dan keliru cetak".
Sebab cicak adalah binatang dengan kemampuan terbatas. Dia hanya bisa merayap meniti dinding, bergerak lamban,  sedang semua yang ditakdirkan sebagai makanannya memiliki sayap dan mampu terbang kemana-mana. Andai dia berfikir sebagai manusia, betapa nelangsanya.

Namun mari ingat sejenak, bahwa ketika kecil dulu, orang tua sering menyanyikan lagu tentang hakikat rizki, lagu itu berjudul , " cicak-cicak di dinding".

Bahwa tugas cicak memang hanya berusaha sejauh kemampuannya. Karena soal rizki, Alloh lah yang memberikan jaminan. Maka kewajiban cicak hanya "diam-diam merayap", bukan cicak yang harus mengejar dan terbang untuk memangsa buruannya.

"Datang seekor nyamuk"

Alloh maha pencipta dan maha memberi rizki, maka Alloh jualah yang mendatangkan rizki. Jika dibanding ikhtiar cicak  yang diam-diam merayap, perjalanan nyamuk untuk mendatangi cicak sungguh lebih jauh, lebih berliku dan lebih dahsyat. Jarak dan waktu memisahkan keduanya, namun Alloh mendekatkan mereka berdua sedekat-dekatnya. Nyamuk bebas terbang kemana jua, tapi Alloh bimbing ia supaya menuju pada sang cicak yang melangkah bersahaja. Ia sudah ditakdirkan menjadi rizki bagi sesama makhluk-Nya, sesudah menikmati rizki selama waktu yang sudah ditentukan oleh-Nya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى الله رزقها

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya".


"Dabbah" demikian menurut sebagian ahli tafsir adalah kata untuk mewakili binatang-binatang yang terbelakang cara bergeraknya, kotor keadaannya dan liar hidupnya.
Alloh menyebut "dabbah" di ayat ini seakan-akan ingin menegaskan, jika binatang-binatang  rendahan, terbelakang dan kotor saja dijamin rizkinya, apalagi manusia?.

Sabda Nabi Saw
ان الرزق ليطلب العبد كما يطلبه اجله
"Sesungguhnya rizki itu memburu hamba, sebagaimana maut juga memburunya".
Masihkah kita ragu akan jaminan rizqi dari Allah SWT terhadap makhlukNya?.

No comments:

Post a Comment