Tuesday, September 18, 2018

Elastisitas Politik NU

CahayadakwahNU.com-Serang Baru
Salah satu ciri khas dari pemikiran politik kaum Tradisionalis termasuk NU adalah sikap moderat, luwes dan fleksibel. KH.Idam Khalid sebagai salah satu ulama sekaligus politisi NU tahun1950 -1960 an pernah mengatakan bahwa
"dari sudut pandang politik dalam negri, NU selalu mencoba sedapat mungkin untuk menyesuaikan diri dengan waktu dan peristiwa yang sedang terjadi dan tidak pernah mengajukan sesuatu yang bersifat absolut atau tanpa syarat".

Keluwesan dalam pengambilan keputusan itu sebagian merupakan wujud penerapan kaidah fiqih mengenai cara meminimalisir resiko/bahaya. Setiap perkembangan baru dalam suatu krisis memerlukan perhitungan-perhitungan baru tentang keuntungan dan kerugiannya sehingga sikap atau posisi sebelumnya dapat dipertimbangkan kembali. Komitmen yang telah dibuat untuk keadaan tertentu dapat ditarik kembali bila terdapat perubahan dalam perhitungan untung ruginya. Kaidah populer  yang sering digunakannya adalah
الحكم يدور مع العلةوجودا وعدما
"sebuah ketetapan itu bisa berubah tergantung ada atau tidaknya  faktor yang mempengaruhinya".

Pada tahun 1950 an, Keluwesan NU sangat berlawanan dengan sikap tegas Masyumi. Diantara semua partai politik, Masyumi merupakan partai yang paling enggan membuat kelonggaran. Berbeda dengan wacana politik NU yang banyak diwarnai istilah-istilah semisal, luwes, fleksibel dan toleran, perbendaharaan kata Masyumi dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan seperti, konsekuen, tegas dan ngotot. Cara yang dipakai antara NU Masyumi  menunjukan perbedaan cara pendekatan yang digunakannya.

Kebijaksanaam dan keluwesan politik NU dapat kita ketahui dari kisah yang pernah disampaikan oleh KH.Idham Chalid dalam kursus pelatihan kader partai pada tahun 1969. Kisah tersebut merupakan perbandingan pengakuan dua ulama besar, yakni Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hambal pada pengadilan " mihnah" ( fitnah) dizaman khalifah Abbasiyyah Al-Makmun. Pengadilan diselenggarakan oleh al-Makmun untuk menanamkan ajaran mu'tazilah yang dianutnya. Al-Makmun mengeluarkan keputusan yang berisi perintah kepada seluruh pejabat dan ahli agama untuk mengakui bahwa al-Qur'an itu makhluk dan tidak kekal. Suatu keyakinan yang merupakan ajaran pokok faham mu'tazilah. Baik Imam Syafi'i maupun Imam Hanbali tidak menyetujui pandangan tersebut. Mereka mengikuti pemikiran umum bahwa al-Qur'an itu merupakan firman Allah ( kalamullah) yang bersifat qodim dan kekal.
Menurut KH.Idham Chalid, kedua ulama tersebut di penjara dan diinterogasi oleh Khalifah. Berikut penuturan KH.Idham Chalid :

Ketika Imam Hanbali ditanya oleh Khalifah Al-Makmun tentang al-Qur'an, hadits atau qodim?, dengan penuh konsekuen Imam Ahmad menjawab : qodim, sehingga Imam Ahmad dipenjara. Bahkan karena beliau tetap kukuh dalam pendiriannya, beliau selalu disiksa dalam penjara hingga menyebabkan meninggalnya beliau. Berbeda dengan Imam Syafi'i yang menjawab secara diplomatis. Ketika ditanya oleh sang Khalifah tentang al-Qur'an, maka beliau Imam Syafi'i menjawab : " Qur'an, Taurat, Injil, Zabur, dan Suhuf, yang lima ini adalah hadits (sambil berisyarat pada genggaman tangannya itu). Jadi hakikat jawabannya, yang hadits itu bukan Qur'annya, melainkan genggaman tangannya itu. Meskipun demikian, Khalifah yang memiliki kekuasaan muthlak waktu itu merasa puas, dan selamatlah Imam Syafi'i sehingga beliau mempunyai kesempatan menyebarkan ajarannya ke segala pelosok, sehingga 45% didunia ini adalah penganut Imam Syafi'i. 

KH.Idham Chalid menyimpulkan sikap Imam Syafi'i sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Nabi Saw, yang menasehati para pemimpin agar memperhatikan keadaam ummatnya dan jangan hanya mengutamakan kepentingan pribadinya. Ia mengingatkan kembali nasihat Nabi Saw bahwa imam shalat harus  bijaksana, diantara jamaahnya terdapat orang tua dan golongan lemah, tidak boleh membebani mereka dengan jumlah rakaat yang banyak atau dengan membaca surat-surat yang panjang.

Jadi menurut KH.Idham Chalid bahwa NU berpolitik dengan luwes dan moderat itu bukan dibuat-buat sendiri, tapi mencontoh pada Imam Syafi'i dan Nabi Saw dan para sahabatnya. Sikap luwes dan moderat yang dipilih oleh NU merupakan sikap yang realistis dan membawa kemashlahatan bagi ummat. Justru sikap konsekuen ( keras dan ngotot) yang sebenarnya berbahaya baik bagi pemimpin maupun ummatnya. Pemimpin yang "konsekuen"  secara tidak sadar bisa mengorbankan ummatnya demi keyakinan dan kepentingan pribadinya. Mungkin akan ada yang mencibir startegi yang digunakan Imam Syafi'i untuk mendapatkan kebebasannya, namun hal tersebut justru harus dilakukan demi melanjutkan perjuangan yang lebih mashlahat lagi, dengan mengabdikan hidupnya untuk kepentingan Islam dan ummatnya. Keteguhan Imam Ahmad memang bagus dan menjadikannya sebagai seorang syuhada, namun juga menyebabkan masyarakat Islam kehilangan kepemimpinannya.

Dalam pengertian ini, kisah mengenai Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbali dapat dipandang sebagai cerminan cara pendekatan NU dan Masyumi dalam pemerintahan sukarno. NU lebih luwes dan fleksibel serta diplomatis sehingga dapat bertahan dalam masa yang penuh gejolak dan eksis hingga sekarang. Adapun Masyumi terlalu kaku dan angkuh sehingga akhirnya dibubarkan oleh pemerintah dan kini tinggal nama saja.

No comments:

Post a Comment