Monday, September 24, 2018

Wacana Islam Nusantara sudah ada sejak 2011, kenapa baru sekarang diributkan?

CahayaDakwahNU.com~Kota Serang Baru
Pada tahun 2011, Pengurus Wilayah NU ( PWNU ) Jawa timur mengadakan seminar nasional dengan mengangkat tema "NKRI, Aswaja, dan Masa Depan Islam Nusantara"  bertempat di Surabaya. Dalam seminar untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-88 NU itu, PWNU Jatim membedah "Islam Nusantara" melalui sejumlah pembicara dari kalangan politisi, tokoh agama, dan kalangan akademisi.

Politisi yang diundang adalah Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie, Ketua DPP PPP KH Noer Iskandar SQ, dan parpol lain sebagai peserta aktif.

Dari kalangan tokoh agama ada Habib Rizieq (Ketua Umum Front Pembela Islam/FPI), Ustadz Ja`far Umar Thalib (mantan Panglima Laskar Jihad), dan KH Said Aqiel Siradj (Ketua Umum PBNU).

Sementara itu, kalangan akademisi antara lain Prof Yudi Latief (Universitas Paramadina, Jakarta), Prof Ali Haidar (peneliti NU dari Unesa Surabaya), dan akademisi lain sebagai peserta aktif.

Dalam pengantar seminar, Rais Syuriah PBNU KH Hasyim Muzadi selaku pembicara utama menegaskan bahwa tiga sumbangan besar NU yang telah diakui dunia adalah menata hubungan negara dan agama, mabadi khoiro umma (umat yang berkarakter baik), dan penguatan sipil.

"NU membawa Islam dalam konsep seperti yang didakwahkan para Walisongo di kawasan Nusantara hingga konsep Islam ala NU itu kini dikenal di seantero dunia," kata Presiden Agama-agama Dunia itu.

Dalam menata hubungan negara dan agama, NU mementingkan agama dalam konteks nilai-nilai, sehingga Indonesia bukan negara sekuler dan bukan negara agama, tapi agama dan nilai-nilai agama pun berkembang dengan baik.

"Bahkan, nilai-nilai agama itu akhirnya mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga agama tidak sekedar ritual, tapi ada dalam kehidupan masyarakat sebagai Rahmatan Lil Alamin," katanya.

Oleh karena itu, kata pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam di Malang dan Depok itu, para pemimpin Indonesia yang ingin mempertahankan NKRI, maka ia hendaknya membesarkan NU dan pesantren.

Pernyataan Hasyim Muzadi itu "diamini" Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) dan Ketua Umum FPI Habib Rizieq, bahkan keduanya mengaku merasa aman dengan NU.

"Saya merasa tenang dan nyaman berada di NU, karena itu saya setuju dengan pernyataan Pak Hasyim Muzadi (Islam Rahmatan Lil Alamin yang mengedepankan nilai-nilai), bahkan saya berharap NU berkembang di seluruh Indonesia seperti di Jatim," kata Ical.

Di hadapan 500-an pengurus NU se-Jatim, mantan Menko Kesra itu mengaku gundah menyikapi kehidupan berbangsa yang penuh intrik dan fitnah serta kekerasan.

"Intrik, fitnah, dan kekerasan membuat hidup kita tidak enak, karena itu saya berharap NU menjadi penjaga bangsa, garda bangsa yang mengedepankan nilai-nilai agama sehingga NU menjadi perekat kemajemukan," katanya.

Senada dengan itu, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyatakan NU merupakan "jangkar persatuan" dalam kemajemukan masyarakat Indonesia dalam suku, budaya, bahasa, dan sebagainya.

"Kalau konsisten pada tradisi berpikir, NU akan menjadi pilar bagi eksitensi Indonesia, sehingga kita akan maju dalam politik yang diarahkan pada dua hal yakni kemajuan ekonomi dan karakter. Saya kira NU berperan besar dalam pendidikan karakter lewat pesantren," katanya.

Hal itu juga diakui Ketua Umum FPI Habib Rizieq. "NU adalah `rumah besar Aswaja` di dunia dan pimpinan NU adalah orang tua sendiri. Kami sangat mencintai NU, karena NU itu rumah besar kami dan pimpinannya adalah orang tua kami," katanya.

Oleh karena itu, ia mengajak NU dan para ulama untuk menjaga Indonesia dari intervensi pihak luar yang memasukkan aliran sesat dan pikiran liberal.

Agaknya, "Islam Nusantara" yang dilontarkan NU adalah Islam yang pernah dikembangkan para Walisongo yakni bukan Islam politik seperti konsep "negara Islam", namun mengembangkan nilai-nilai Islam untuk mewujudkan "masyarakat Islam" sehingga tidak terjadi benturan budaya, karena Islam justru menjadi "Rahmatan Lil Alamin" (rahmat bagi seluruh alam).

Sumber asli bisa dilihat disini
http://www.nu.or.id/post/read/27064/islam-nusantara-apa-pula-


Dari data dan informasi diatas tersebut, maka setidaknya kita bisa menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Konsep Islam Nusantara itu sudah sejak lama digulirkan oleh NU, yakni sejak tahun 2011, dan kala itu semua pihak bisa memahami dan menerima konsep tersebut, terbukti dalam acara seminar tersebut maupun setelah acara seminar, tidak ada tokoh yang mempersoalkan gagasan Islam Nusantara.
Gagasan Islam Nusantara sempat menghangat kembali menjelang muktamar NU di Jombang pada tahun 2015 lalu karena Islam Nusantara menjadi tema resmi dalam perhelatan akbar lima tahunan warga Nahdliyyin tersebut. Namun setelah diberikan penjelasan yang cukup komprehenahip dari para Ulama NU tentang makna Islam Nusantara, maka perdebatan tentang Islam Nusantara akhirnya langsung reda. Anehnya kemudian wacana Islam Nusantara yang sebetulnya sudah selesai sejak lama, kini sengaja dihembuskan kembali oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab ditahun politik ini. Dengan demikian, maka isu dan penolakan Islam Nusantara yang saat ini digembar gemborkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab jelas bukan penolakan yang bersifat ilmiyyah, tapi bermuatan politis dan memiliki maksud buruk, yakni membangun buruk citra NU, sehingga NU kian ditinggalkan Ummat. Lebih dari itu, Islam Nusantara sesungguhnya sudah ada sejak lama yakni sejak tahun 1969 yang menjadi nama sebuah univeraitas bernama Univeraitas Islam Nusantara atau disingkat UNINUS yang asalnya bernama UNU ( Univeraitas Nahdlatul Ulama)  yang berada di Bandung Jawa Barat.

2. Habib Rizieq Syihab secara terang-terangan mengakui sangat mencintai NU dan mengakui bahwa NU adalah besar Aswaja di dunia, serta menganggap para pimpinan NU adalah seperti orang tuanya sendiri.

No comments:

Post a Comment